SHARE
ILUSTRASI

Jakarta, GEO ENERGI – Alasan batu bara belum bisa menggantikan minyak dan gas sebagai sumber energi di Indonesia, salah satunya karena isu lingkungan. Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) menyampaikan pandangan baru, bahwa batu bara Indonesia aman untuk lingkungan.

Hingga kini, penggunaan batu bara sebagai sumber energi masih sekitar 20 persen dari energy mix Indonesia. Padahal, untuk periode ini, Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan penggunaan batu bara meningkat hingga 60 persen. Hal ini disebabkan oleh besarnya isu tentang emisi yang dihasilkan oleh batu bara.

Hal itu dibantah oleh Ketua WG Kebijakan Pertambangan PERHAPI, Budi Santoso. Menurut dia, batu bara Indonesia merupakan batu bara paling bersih di dunia. Komposisi sulfur dan abunya rendah.

“Persepsi sekarang dibangun, seolah-olah batu bara merugikan. Apalagi, sekarang sudah ada teknologi yang sopisticated dalam mengolah batu bara. Di mana emisi yang dihasilkan sudah jauh lebih rendah,” kata Budi kepada Geoenergi di Jakarta, Ahad (24/5).

Budi menjelaskan, bahwa pertambangan batu bara merusak lahan berhektar-hektar. Akan tetapi, menurutnya, jika diambil contoh Adaro telah menggarap lahan hingga 1000 hektar dapat menghasilkan 40 juta ton batu bara yang setara dengan kapasitas listrik 10.000 MW. Sebaliknya, bendungan Jatigede hanya berkapasitas 100MW, malah merusak lahan lebih dari 1000 hektar.

“Kalaupun 1 ton batu bara menghasilkan 5 ton CO2, karbondioksida tersebut dapat digunakan dalam teknologi carbon capture storage (CCS),” jelas Budi. Karena itu, ia menegaskan, pemerintah harus menemukan cara mengelola batubara dengan baik. Termasuk mempersiapkan teknologi untuk mengurangi emisi yang selama ini ditakutkan oleh berbagai pihak.

Untuk itu, menurut dia perlu perhatian lebih dari pemerintah terhadap batu bara. “Selama 7 bulan ini, pemerintah masih saja sibuk memfokuskan diri ke migas. Batubara seperti terabaikan,” ujar Kardaya di kesempatan yang sama. (GDH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here