SHARE
ILUSTRASI

Jakarta, GEO ENERGI – Kendati belum lama ini mendapat kunjungan Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Sekretaris Negara Amerika Serikat John Kerry, komunitas internasional tampaknya bakal mengangkat kembali pernyataan sanksi untuk Rusia. Sanksi kembali dilancarkan setelah negeri Beruang Merah itu melakukan invasi ke Ukraina.

Sebagai salah satu negara penghasil hidrokarbon terbesar dunia, sebenarnya mereka tak terlalu khawatir dengan turunnya nilai Ruble Rusia terhadap Dolar Amerika. Akan tetapi, dijatuhkannya sanksi internasional pada Maret 2014 lalu mengurangi ekspor minyak, gas dan produk olahan Rusia.

Sanksi ini tidak membatasi ekspor minyak dan gas Rusia dalam waktu singkat. Faktanya, menurunnya permintaan internal Rusia sebenarnya meningkatkan ekspor minyak dalam beberapa bulan belakangan ini.

“Seharusnya ekonomi Rusia dapat terus tumbuh walaupun terkena sangsi global. Menaikkan permintaan internal dan pelemahan investasi oleh perusahaan global di Rusia, eksplorasi dan pengembangan dapat membatasi ekspor Rusia,” jelas Analis Drillinginfo, Tom Morgan (22/5).

Setiap harinya, Rusia mengekspor 5 juta barel minyak mentah dan produk olahan hampir 2 juta barel. Komoditas itu diekspor ke negara-negara Eropa. Dalam ekspor ke Uni Eropa, Rusia dijanjikan oleh China investasi pipeline dan infrastruktur lapangan minyak lainnya. Tetapi, janji China belum dipenuhi. Saat Yuan menguat, China malah membuat penawaran lagi kepada Rusia. Hal itu membuat Rusia menjadi sangat tergantung pada barang impor dari China.

Pada akhirnya, ditundanya pencabutan sanksi dan kurangnya investasi asing secara langsung, menurunkan produk eskpor Rusia. Pertumbuhan suplai dari sumber lain, semisal produksi unconventional Amerika Utara dan perpanjangan kapasitas petrokimia, akan semakin melemahkan ekspor Rusia.(GDH/DI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here