SHARE
Kantor Pusat PT Pertamina (Persero)

Jakarta, GEO ENERGI – Masyarakat dinilai begitu memahami fungsi dan tujuan riset untuk menemukan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Hal itu diungkapkan oleh Vice President Research and Development PT Pertamina (Persero), Eko Wahyu Laksono.

“Bangsa ini membutuhkan terobosan baru, tapi masyarakat belum terbiasa dengan riset. Ada penilaian, bahwa riset harus 100 persen berhasil. Padahal riset tidak semudah itu,” kata Eko di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (19/5/2015).

Riset yang kini dilakukan oleh Pertamina, menurut dia berisiko tinggi. Pertamina sedang melakukan riset untuk menemukan sumber energi terbarukan, yakni bahan bakar nabati. “Riset memakan biaya sangat besar, di smaping berisiko memunculkan kerugian materi.”

Ia menjelaskan, di banyak negara maju, pengembangan bahan bakar nabati sangat didukung oleh pemerintah dan diberikan subsidi khusus. “Di negara-negara maju, EBT mendapat subsidi.”

Kini Pertamina sedang menyiapkan program untuk memindahkan hasil riset ke jalur produksi masal atau komersialisasi. PT Pertamina telah mengembangkan tiga varian bahan bakar nabati, antara lain Hydrotreated Biodiesel (HBD), Solar Emulsi, dan Minyak Alga atau lumut.(ABA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here