SHARE
Ilustrasi Foto: Geo Energi/Hermana

Jakarta, GEO ENERGI – Menuju hampir 2 bulan yang ditargetkan, janji Presiden Jokowi bahwa 17 Agustus nanti 47 titik daerah perbatasan akan terang benderang kini mulai ditagih. Program tersebut akan lebih banyak menggunakan energi baru dan terbarukan.

“Kan programnya baru mulai Januari ini, jadi sampai saat ini masih dalam proses pengadaam dan pembangunan pondasi. Untuk sementara kita masih menggunakan PTLD dulu untuk penuhi kebutuhan listrik di perbatasan dan desa sambil menunggu PLTS dan PLTMH jadi,” jelas Direktur Jenderal Listrik Ir. Jarman M.Sc. di Cikini, Jakarta (10/5). Jarman optimis proyek ini dapat selesai pada waktu yang sudah direncanakan.

Akan tetapi, sesuai dengan UU Kelistrikkan dan Migas, PLTD kini sudah tidak boleh menjadi pembangkit listrik utama. PLTD harus di-hybrid dengan teknologi energi baru dan terbarukan seperti surya, micro hydro dan panas bumi.

Penggunaan PLTD membutuhkan bahan bakar solar yang banyak. Akan sulit saat distribusi solar ke daerah perbatasan yang infrastrukturnya belum ada atau pun harus menggunakan jalur air. Maka dari itu, program ini mengutamakan penggunaan energi baru dan terbarukan.

“PLTD nantinya hanya dipakai apabila sumber energi terbarukan melemah, misal intensitas matahari yang kurang dan lain sebagainya. Jadi tidak boleh tergantung pada PLTD saja, di sinilah ketahanan energi kita dapat berkembang,” kata Jarman.

Program listrik untuk menerangi daerah perbatasan dan pedesaan tengah diusahakan oleh pemerintahan Jokowi. Dari total anggaran Rp3.1 triliun, Rp1.5 triliun sudah dialokasikan hanya untuk penerangan daerah perbatasan. Besar total kapasitas yang ditargetkan mencapai (GDH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here