SHARE
Istimewa

Jakarta, GEO ENERGI – Rencana Pertamina dan Pemerintah yang akan mengganti bahan bakar minyak (BBM) jenis premium ke pertalite secara bertahap, di dukung PT Nissan Motor Indonesia (NMI) yang memprediksi bahwa pertalite akan sedikit memberikan pengaruh positif terhadap mesin mobilnya.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh General Manager of Marketing Strategy and Product Planning PT NMI, Budi Nur Mukmin yang mengatakan bahwa pihaknya menganjurkan konsumen Nissan untuk menggunakan BBM dengan kadar oktan (RON) 92. Meski begitu, ternyata masih ada konsumen yang menggunakan premium yang memiliki RON 88. “Produk Nissan dianjurkan enggak ada yang pakai premium. Pabrikan dianjurkan pakai pertamax, dari sisi engine pakai RON 92. Faktanya konsumen yang pakai premium akan ada penurunan performa. Itu pilihan mereka mau pakai premium,” kata Budi usai peluncuran Nissan GT Academy di Mal Taman Anggrek, Jakarta, Selasa (28/4).

Menurutnya, dengan lahirnya pertalite, konsumen Nissan yang ‘bandel’ memakai premium bisa beralih ke pertalite yang memberikan performa yang lebih baik. Jadi menurut prediksi Budi, pertalite ini akan membantu memaksimalkan kinerja mesin dan daya tahan kendaraan meski belum setingkat dengan pertamax yang memiliki RON 92. “Walaupun belum selevel pertamax tapi bisa membantu kinerja mesin dan daya tahan. Jadi saya pikir tetep ada pengaruhnya,” imbuhnya.

Memang saat ini Nissan belum melakukan studi terhadap jenis BBM baru tersebut. Sebab, mobil Nissan dianjurkan memakai BBM dengan RON 92. Tapi dilihat dari penggunaan premium di mobil Nissan, kerusakan yang ditimbulkan tidak signifikan. Makanya, Budi percaya pertalite ini akan membuat kendaraan lebih maksimal lagi. “Kami belum studi. Tapi pakai premium pun tidak ada kerusakan yang signifikan. Maksudnya daya tahan tetap ada, performa menurun. Tapi tetap tidak dianjurkan pakai premium,” jelas Budi.

Meskipun begitu, Budi mengaku bahwa kehadiran pertalite akan memberi pengaruh terhadap penjualan mobil di Indonesia akibat harga pertalite yang kemungkinan lebih mahal ketimbang premium. “Kalau soal terpengaruh, dalam jangka pendek pasar pasti akan terpengaruh. Tapi kalau dalam jangka panjang masyarakat pasti melakukan penyesuaian. Namun kondisi tersebut hanya sementara. Masyarakat pasti akan melakukan penyesuaian dan nanti akan muncul titik keseimbangan baru,” ujar Budi.

Pada titik keseimbangan baru tersebutlah, ia menyebut bahwa kondisi pasar kemudian akan kembali normal. “Perlu waktu untuk mencapai titik itu. Mungkin perlu wakru kisaran 3 bulan atau lebih. Namun setelah itu, pasar akan kembali normal,” tutupnya.(DSU)

Penolakan Kenaikan Harga BBM, jadi Agenda di Hari Buruh

Jakarta, GEO ENERGI – Jelang 1 Mei nanti yang merupakan Hari Buruh Internasional, diperkirakan sebanyak satu juta buruh akan turun ke jalan untuk memperingatinya. Peringatan May Day tersebut rencananya akan dilaksanakan secara serentak di 30 provinsi dan 250 kabupaten/kota.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal yang mengatakan khusus untuk DKI Jakarta sebanyak 150 ribu buruh yang berasal dari KSPI, KSPSI, KSBSI, SBTPI, KASBI, dan sejumlah elemen buruh lainnya akan long march dari Bundaran HI menuju Istana Presiden. “Khusus masa KSPI sebanyak 100 ribu juga akan bergerak ke GBK untuk merayakan May Day Fiesta untuk menyuarakan tuntutan,” kata Said dalam keterangan tertulisnya.

Said menambahkan bahwa dalam rangka memeperingati May Day nanti, selain akan menyuarakan penolakan upah murah, penolakan kenaikan harga BBM juga akan menjadi salah satu agenda dalam tuntutan mereka nanti. “Selain meminta meminta penghapusan outsourcing khususnya di BUMN, kami juga menolak kenaikan harga BBM, elpiji, dan listrik sesuai harga pasar, serta turunkan harga bahan pokok,” tegasnya. (DSU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here