SHARE
Istimewa

Jakarta, GEO ENERGI – Dalam memperbaiki perubahan iklim global dibutuhkan teknologi, regulasi yang mendukung juga perilaku masyarakatnya.

Permintaan energi global kini mulai menggeser ke arah Asia bagian selatan, didominasi oleh Cina. Beberapa faktor yang memperngaruhi kenaikan permintaan ini adalah sektor industri yang sedang berkembang dan kepadatan penduduk.

“Tiap tahun jumlah penduduk dunia berkembang pesat. Untuk memenuhi kebutuhannya pemerintah masng-masing negara membangun banyak industri sehingga kebutuhan akan energi yang banyak tidak bisa dihidarkan lagi. Pada akhirnya terjadilah emisi karbon sisa pembakaran dari industri maupun transportasi yang luar biasa banyaknya,” jelas Sir David King sebagai perwakilan khusus Kementerian Luar Negeri Inggris mengenai perubahan iklim (20/4).

Sebenarnya perubahan iklim ini dapat diatasi dengan teknologi ramah lingkungan, regulasi pemerintah dan yang lebih penting lagi adalah perilaku dari masyarakatnya sendiri.

“Supaya Anda ketahui di dunia saat ini para ilmuwannya telah mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan. Dimulai dari Granbio plant di Brazil, pembangkit listrik yang menggunakan tanaman sebagai bahan bakunya. Jadi di sana pertaniannya selain menghasilkan gula, juga menghasilkan liquid fuel yang nantinya diolah untuk menghasilkan listrik,” kata Sir David King menjelaskan di tengah pidatonya di seminar dengan tema “Komitmen Perubahan Iklim dan Ekonomi Iklim Baru” yang diselenggarakan di Universitas Indonesia, Depok.

Upaya negara lain dalam mengurangi emisi karbon adalah dengan menciptakan teknologi low carbon vehicle. Selain mesinnya yang ramah lingkungan, body mobilnya pun dibuat dari plastik sisa pembuangan sehingga bisa dibilang mobil tersebut zero wasting vehicle.

Bogota yang sebelumnya merupakan kota dengan lalu lintas tersibuk dan memiliki tingkat polusi yang tinggi, seperti Jakarta, kini sudah mampu mengatasi kemacetan dalam kotanya. Hal ini diawali dengan dikeluarnya peraturan pemerintah yang mengatur sistem jalur di jalan raya dan kelayakan kendaraan kota tersebut, dan masyarakat sekitar pun mematuhinya. Kini di Bogota sudah jarang terjadi macet dan emisinya sudah jauh berkurang. Ini salah satu bukti perilaku masyarakat turut menjadi faktor yang mempengaruhi keberjalanan penanganan perubahan iklim. (GDH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here