SHARE
istimewa

Jakarta, GEO ENERGI – Hakim Tunggal Riyadi Sunindyo telah menolak permohonan praperadilan Suroso Atmo Martoyo. Atas putusan ini kuasa hukum Suroso, Jonas M Sihaloho mengaku kecewa. Dia menilai, hakim sama sekali tidak mempertimbangkan bukti, fakta dan saksi yang terungkap di persidangan.

“Kami kecewa karena hakim sama sekali tidak mempertimbangkan fakta dan keterangan saksi di persidangan. Putusan ini mengesampingkan apa yang terjadi sebenarnya,” kata Jonas usai sidang kepada Geo Energi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (14/4).

Ia menjelaskan, hakim telah mengesampingkan keterangan saksi fakta Direktur PT Soegih Interjaya, Muhammad Syakir yang menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah memberikan suap kepada Suroso.

“Adanya keterangan saksi ini telah diabaikan oleh hakim. Keterangan saksi dari penyidik KPK yang menyatakan tak ada unsur tindak pidana korupsi juga telah diabaikan oleh hakim,” ujarnya.

Jonas menambahkan, putusan pengadioan Southwark Ingris yang menjadi pijakan KPK dalam penyidikan kasus ini tak bisa dijadikan dasar dalam menetapkan Suroso sebagai tersangka. “Harusnya putusan ini harus diuji terlebih dahulu keabsahannya,” pungkasnya.

Pada 26 Maret 2010, Pengadilan Southwark, Crown, Ingris menyatakan Innospec bersalah dan dikenakan denda sebesar USD 12,7 juta. Innospec merupakan mitra kerja PT Soegih Interjaya di Indonesia dalam pengadaan zat tambahan bahan bakar, tetraethyl lead (TEL) Pertamina.

“Kami juga menilai penahanan Pak Suroso tak sah karena tak cukup bukti terkait kasus yang dituduhkan KPK,” sambung Jonas.

Sebelumnya, PN Jaksel menggugurkan permohonan praperadilan mantan Direktur PT Pertamina (Persero) Suroso Atmo Martoyo. Hakim tunggal Riyadi Sunindyo pada amar putusannnya juga menyatakan penahanan terhadap Suroso sah menurut hukum.

Seperti diketahui, Suroso telah ditetapkan KPK sebagai tersangka lantaran diduga menerima suap pengadaan zat tambahan bahan bakar, tetraethyl lead (TEL) Pertamina tahun 2004-2005.

Selain Suroso, KPK juga menetapkan Direktur PT Sugih Interjaya Willy Sebastian Liem sebagai tersangka. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka pada 2011 dan 2012. Namun, KPK baru menahan mereka pada 24 Februari 2015 atau setelah tiga tahun penetapan tersangka. (RBW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here