SHARE
Foto: Geo Energi/Affan

Jakarta, GEO ENERGI – Dalam Rapat Dengar Pendapat PT Pertamina (Persero) dengan Komisi VI DPR RI Selasa lalu, Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto memaparkan bahwa selama periode Januari sampai dengan Februari lalu, Pertamina mengalami kerugian bersih sebesar USD212,3 juta. Hal ini dikatakan Dwi disebabkan oleh merosotnya pendapatan Pertamina dalam bisnis hilir mencapai USD368 juta.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi VI DPR RI, Hafizh Tohir mengatakan bahwa kepemimpinan Direksi Pertamina saat ini dinilai gagal. Karena hanya dalam kurun waktu dua bulan di awal tahun 2015 ini saja, Pertamina sudah merugi masing-masing sebesar USD107 juta pada bulan Januari dan USD105 juta pada bulan Februari. Terlebih lagi, menurutnya, kerugian Pertamina yang sebenarnya bukan sebesar yang disebutkan Dwi, akan tetapi ada kerugian Pertamina yang tercecer sebesar USD700 juta.

“Ada kerugian USD212 juta. Kalau kita hitung target keuntungan Pertamina per bulan Maret itu USD502 juta. Artinya ada target yang terececer USD700 juta. Jadi minus USD210 juta dan positif USD502 juta itu nggak tercapai selisih nya itu, yang gap nya itu USD712 juta.” ujar Ketua Komisi VI Hafisz Tohir di Senayan, Selasa (07/04).

Hafisz juga menambahkan, apabila Pertamina tidak merubah pola pikir dan bisnisnya, hal ini akan berlangsung sampai semester kedua kuartal ke-3 tahun ini. Dan tentunya dapat membuat kerugian Pertamina semakin membengkak di akhir tahun. Hafisz mengatakan jika diambil rata-rata kerrugiannya, sampai dengan bulan Desember 2015 mendatang, Pertamina bisa mengalami kerugian mencapai USD1 miliar.

Sebelumnya, Dwi Soetjipto menjelaskan bahwa kerugian yang dialami perusahan pelat merah tersebut tidak bisa dihindari meskipun dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) periode Januari-Februari 2015, laba ditargetkan sebesar USD280 juta. Sedangkan RKAP laba bersih dalam selama tahun 2015 diproyeksikan sebesar USD1,731 miliar.

“Penurunan pendapatan 2015 sejalan dengan rendahnya proyeksi beban pokok penjualan, yang ditargetkan tahun 2015 42,687 miliar dolar AS dari capaian tahun 2014 sebesar 63,857 miliar dolar AS,” jelas Dwi.

Dwi juga menambahkan, tren penjualan produk BBM utama perseroan terlihat pada empat bulan terakhir yaitu November 2014 sampai dengan Februari 2015. Penurunan yang terjadi pada premium sebesar 0,12%, solar juga melemah 0,17%, dan kerosin melemah 0,16%. Sedangkan pada pertamax meningkat 0,93%.

“Penurunan premium dan solar lebih karena adanya disparitas harga yang semain kecil dengan pertamax dan pertadex. Selisih yang semakin kecil tersebut mendorong konsumen beralih menggunakan pertamax dan pertadex. Sedangkan, penurunan kerosin karena adanya konversi ke LPG,” terangnya. (YAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here