SHARE
Istimewa

Jakarta, GEO ENERGI – PT Tirta Wahana Bali International (TWBI) semenjak beberapa waktu lalu memang telah merencanakan untuk melakukan reklamasi Teluk Benoa, Bali dengan cara mengurug laut seluas 700 Ha. Saat ini, PT TWBI tengah mengincar pasir laut di kawasan pantai dan pesisir Muncar, Rogojampi, dan Kabat, Kabupaten Banyuwangi untuk melancarkan rencana reklamasinya tersebut. Padahal, rencana ini sendiri telah mendapat berbagai aksi penolakan dari berbagai elemen masyarakat, khususnya masyarakat Bali dan para aktivis peduli lingkungan, karena dianggap berpotensi merusak upaya konservasi pantai yang selama ini dilakukan.

Untuk itu, Walhi Jatim bersama beberapa elemen masyarakat yang tergabung dalam Aktivis Peduli Lingkungan yakni, LBH Surabaya, CMARs, KBS, GKI, Outsider Surabaya, Gusdurian, dan PUSHAM Surabaya menyatakan sikapnya untuk meminta Gubernur Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menolak permintaan izin penambangan pasir laut yang diajukan oleh PT TWBI di Kecamatan Muncar, Rogojampi dan Kabat, Banyuwangi demi kelestarian ekologis dan terjaganya sumber-sumber pendapatan masyarakat berbasis maritim.

Dalam perkembangannya saat ini, dalam upaya berusaha melancarkan rencananya itu, pihak PT TWBI telah mengadakan pertemuan langsung dengan pihak Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga sekaligus melakukan survey terhadap lokasi yang ia maksudkan tersebut. Dan kini, eksekusi dari rencana tersebut hanya tinggal menunggu persetujuan izin dari Gubernur Jawa Timur. Padahal, sebelumnya pihak PT TWBI juga telah ditolak perizinannya saat berencana untuk melakukan reklamasi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu silam karena Gubernur NTB, M. Zainul Majdi mengatakan bahwa adanya reklamasi hanya akan merusak ekosistem di wilayahnya.

Ode Rakhman, Manajer Kampanye WALHI Pusat mengatakan bahwa langkah selanjutnya dari PT TWBI nantinya adalah membicarakan soal pembahasan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) apabila nantinya Gubernur Jatim menyetujui perizinan yang diajukan PT TWBI. Maka dari itu, gabungan aktivis peduli lingkungan ini akan sangat mengecam jika Gubernur Jatim sampai memberikan izin kepada pihak PT TWBI.

“Berdasarkan info terakhir, PT TWBI sedang mencari lokasi pengambilan material, begitu dapat lokasi dan disetujui oleh Gubernur Jatim, AMDAL langsung dibahas,” jelasnya pada GEO ENERGI dalam keterangan tertulisnya, Rabu (08/04).

Ode juga menambahkan, bahwa anggota gabungan aktivis peduli lingkungan ini sangat mengharapkan proses reklamasi Teluk Benoa ini tidak sampai pada proses pembahasan AMDAL oleh Tim Amdal Pusat. Bahkan pihak WALHI sendiri telah mempersiapkan strategi untuk mencegah terjadinya reklamasi ini.

“Kami berharap AMDAL itu tidak dibahas oleh tim Amdal Pusat. Tentu WALHI juga akan terus pressure KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) agar rencana reklamasi Teluk Benoa gagal dilakukan. WALHI sedang menyiapkan strategi untuk menyurati seluruh Gubernur di Indonesia agar tidak memberikan materil tananhya untuk menimbun Teluk Benoa.

Untungnya, menurut Ode, sudah terlihat adanya sinyal penolakan terhadap PT TWBI dari Gubernur Jatim.

“Setelah NTB menolak, kemudian Jatim juga sepertinya menolak. Kabarnya Gubernur Jatim menolak pertambangan pasir laut di Banyuwangi. Alasannya daerah itu merupakan kawasan konservasi dan juga daerah rawan bencana tsunami,” ujar Ode.

Pengerukan pasir laut di Banyuwangi akan mengancam kelestarian kawasan pantai dan laut di wilayah tersebut. Ekosistem Pantai dan pesisir seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun, berikut sumberdaya hayati yang terkandung di dalamnya yang memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat disekitarnya. Kehancuran ekologi kawasan pantai dan pesisir akan menimbulkan dampak yang luas seperti hilangnya biota laut yang menjadi sumber pendapatan masyarakat pesisir, serta ancaman bencana ekologis seperti abrasi dan banjir rob.

Kawasan Muncar, Rogojampi dan Kabat adalah kawasan yang selama ini dikenal sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia. Di Muncar, menurut data BPS pada 2014, ada 12.714 jiwa yang berprofesi sebagai nelayan. Di wilayah Rogojampi dan Kabat sendiri, setidaknya 1.488 warganya bekerja di sektor perikanan. Jumlah tersebut belum memperhitungkan tenaga kerja yang bekerja pada 309 Unit Pengolahan Ikan yang tumbuh di wilayah tersebut. Di Pelabuhan Muncar saja ada 27 industri penepungan ikan, 13 industri pengalengan ikan, dan 27 unit pembekuan ikan.

Semua usaha perikanan dan ruang hidup nelayan sebagaimana dijelaskan diatas akan terancam jika Gubernur Jawa Timur memberi ijin penambangan pasir laut di kawasan tersebut. (YAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here