SHARE
Foto: lensaindonesia

Jakarta, GEO ENERGI – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta kepada hakim tunggal Suyadi menolak permohonan praperadilan yang diajukan mantan Dirut Pengolahan Pertamina Suroso Atmo Martoyo. KPK dalam eksepsinya menyatakan bahwa penetapan Suroso sudah sah dan sesuai dengan hukum.

“Apa yang didalilkan pemohon tidak adanya yurisprudensi dan telah masuk dalam pokok perkara. Pada halaman 6 sampai 8, pemohon mendalilkan penetapan tersangka tidak sesuai hukum,” kata kuasa hukum KPK Nur Chusniah saat membacakan eksepsi dalam sidang praperadilan di PN Jakarta Selatan, Selasa (7/4).

Dalam permohonannya, Suroso mempermasalahkan penetapan status tersangkanya serta legalitas penyidik KPK yang menahannya.

Menanggapi hal itu, Chusniah berpendapat bahwa penetapan Suroso sudah sesuai dengan hukum karena disertai dengan dua alat bukti yang cukup dalam penyelidikan kasus dugaan suap pengadaan zat tambahan bahan bakar, tetraethyl lead (TEL) Pertamina tahun 2004-2005.

“Penyidik KPK telah menemukan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang cukup, yang nantinya diperiksa dalam pokok perkara. Sudah sepatutnya permohonan pemohon di tolak,” tegas dia.

KPK juga menilai permohonan yang diajukan Suroso tidak jelas. Pasalnya, pemohon tidak cermat dalam menafsirkan Pasal 6 ayat 1 UU KPK terkait kewenangan penyidik yang menjadi pokok gugatan permohonan praperadilan.

“Perlu pemohon cermati kembali, Pasal 6 ayat (1) UU KPK tidak mengatur rehabilitasi, hanya mengatur untuk pegawai KPK. Maka, permohonan pemohon tidak jelas sehingga harus ditolak,” pungkas dia.

Seperti diketahui, Suroso melayangkan gugatan praperadilan terhadap KPK terkait penetapan tersangka dan penahanannya. Mantan pejabat Pertamina ini ditahan atas tuduhan menerima suap pengadaan zat tambahan bahan bakar, tetraethyl lead (TEL) Pertamina tahun 2004-2005.

Selaun Suroso, KPK juga menetapkan Direktur PT Sugih Interjaya Willy Sebastian Liem sebagai tersangka. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka pada 2011 dan 2012. Namun, KPK baru menahan mereka pada 24 Februari 2015 atau setelah tiga tahun penetapan tersangka.

Kasus dugaan suap pada pengadaan TEL di Pertamina diduga melibatkan Innospec. PT Soegih Interjaya merupakan mitra kerja Innospec di Indonesia. Perusahaan asal Inggris itu dinyatakan bersalah di pengadilan Southwark, Crown, Ingris pada 26 Maret 2010 sehingga dikenakan denda USD 12,7 juta.

Dalam fakta persidangan, terungkap bahwa, sejak 2000 hingga 2005, Innospec melalui PT Soegih Indrajaya menyuap dua mantan pejabat di Indonesia, yakni Suroso dan mantan Dirjen Minyak dan Gas, Rahmat Sudibyo. Suap tersebut dilakukan agar TEL tetap digunakan dalam bensin produksi Pertamina. Padahal, penggunaan bahan bakar bensin bertimbal itu tidak diperbolehkan lagi di Eropa dan Amerika Serikat karena dianggap membahayakan kesehatan dan lingkungan. (RBW)

1 COMMENT

  1. blog nya sudah cukup menarik, tinggal di backlink kan saja untuk hasil yang max. untuk informasi masalh backlink, SEO, TOKO ONLINE blog anda bisa hub nomor di bawah. jasa Backlink WEB dan BlOG Rp 700.000 /bln, jasa design toko online Rp 500.000 /themes, jasa Seo BERGARANSI Rp 2.700.000 2,5 bulan, Jasa Omptimasi Blogwalking 200.000 list web aprove 500 rb /bulan, telp-1 085-100-675-165 telp-2 085-635-945-40 salam hangat…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here