SHARE
Foto: Gadih/Geo Energi

Jakarta, GEO ENERGI – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) meminta agar swasta dilibatkan lebih massif lagi dalam investasi program konversi Bahan Bakar Minyak ke Gas. Sebab itu, pemerintah diharapkan membuka keran sebesar-besarnya untuk berinvestasi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG).

“Kami lihat program konversi ini masih lambat sebab swasta belum sepenuhnya diberi ruang. Kalau diberi ruang, Hipmi siap membantu menyukseskan,” ujar Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadali usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta, Senin (6/4).

Bahlil mengatakan, pihaknya melihat perusahaan plat merah yang bergerak dalam industri gas belum sepenuhnya menginginkan pihak swasta masuk ke industri ini. Sebab itu, Bahlil meminta kepada pemerintah agar keran ini dibuka sebesar-besarnya. “Ini tadi kami sampaikan juga ke Bapak Presiden,” ujar Bahlil.

Hipmi berharap agar program konversi tak hanya berjalan mulus di Pulau Jawa. Namun juga harus merata sampai ke daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke. “Dengan makin mahalnya BBM, maka konversi ke BBG ini suatu keniscayaan. Maka kalau mau cepat, pembangunan infrastruktur distribusi dan kilangnya musti libatkan swasta,” pungkas Bahlil.

Bahlil mengatakan, semakin banyak kalangan pengusaha gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG) atau dikenal bahan bakar gas (BBG) dilibatkan akan dalam program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke BBG akan semakin mengurangi penggunaan BBM secara berarti. “Otomatis serapan masyarakat atas BBM akan berkurang signifikan,” papar Bahlil yang didampingi Sekjen Hipmi Priamanaya Djan dan Bendahara Umum Hipmi Eka Sastra.
Insentif

Meski demikian Hipmi menilai investasi di SPBG ini masih belum menarik secara investasi. Sebab terdapat beberapa risiko yang mengintai diantaranya fluktuasi nilai tukar rupiah. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat investasi pada pembangunan SPBG kurang menarik. Bahlil mengatakan harga beli gas menggunakan mata uang dolar, tetapi kemudian dijual menggunakan rupiah.”Dengan kerawanan rupiah semacam sekarang sangat riskan, kita butuh stabilitas rupiah,” papar Bahlil.

Sebab itu, Hipmi berharap agar pemerintah memberikan insentif khusus kepada investor swasta dan membuka peluang seluas-luasnya kepada pihak swasta untuk bermitra dengan BUMN untuk membangun infrastruktur gas. ”Kalau bermitra kita bisa bersama-sama memitigasi risiko investasi dengan BUMN. Kan ini bagus sekali,” pungkas Bahlil. (RBW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here