SHARE
Foto: Ardi/Geo Energi

Jakarta, GEO ENERGI – Tertundanya status pembangunan Pelabuhan Cilamaya sejak masa pemerintahan kemarin hingga sekarang, jelas masih banyak menuai perdebatan. Dan lucunya, sejak lama juga issue tersebut belum juga ada tindakan secara signifikan. Seperti yang dijelaskan oleh Marwan Batubara selaku Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies dalam talkshow akhir pekan terhangat, Kontroversi Cilamaya di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat.

“Pembangunan Cilamaya sudah dari tahun 2010, bergulir hingga saat ini. Dan ketika ada konflik Kementerian Ekonomi itu menyerahkan ke pihak konsultan,” ujar Marwan. “Pembangunan harus batal. Batal di tempat awal (Cilamaya). Baiknya dipindahkan ke arah timur, dan pemerintah harus mengambil peran,” tambahnya, Sabtu (28/3).

Pernyataan Marwan Batubara justru tidak selaras dengan apa yang disampaikan oleh Direktur Pelabuhan dan Pengerukan Kementerian Perhubungan, Adolf R. Tambunan yang juga menjadi salah satu pembicara di acara diskusi tersebut. “Cilamaya mendekatkan outlet. Jadi, opsi dipindahkan ke pelabuhan lain tidak memungkinkan, karena jauh dari pusat industri (Pelabuhan Tanjung Priok) sebagai pusat perindustrian nasional,” jelas Adolf.

Dalam hal ini, Marwan juga mengajukan usulan untuk Kementerian Perhubungan agar harus memerhatikan sektor yang lain. Penting jika pembangunn Cilamaya ditunda lagi, dan perlu dikaji ulang oleh badan nasional. “Harus perhatikan sektor yang lain terkait dampak pelabuhan itu. Tunda pembangunan Cilamaya. Dan yang terpenting, dikaji lagi oleh badan nasional, bukan asing,” tutupnya. (NAA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here