SHARE
Istimewa

Istimewa

Jakarta, GEO ENERGI – The Center of Policy Studies (CPS), badan konsultasi ekonomi Inggris, berkomentar bahwa usaha Inggris untuk memenuhi peraturan Uni Eropa untuk menurunkan emisi karbon membuat para konsumen mengeluarkan biaya lebih dari yang diakui oleh pemerintah dan akan berakhir menjadi “kebijakan bencana termahal di sejarah Inggris modern”.

Pemerintah memberi subsidi untuk sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin untuk terus meningkatkan energi dan menjalankannya, biaya ini lolos ke pelanggan retail dalam bentuk pajak lingkungan di tagihan mereka.

Menurut Uni Eropa Britania seharusnya menghasilkan 15 persen dari total energi – trasnportasi, listrik dan panas – dari sumber energy terbarukan di 2020. Pemerintah mempermasalahkan laporan pada 2014 yang mengatakan tipikal biaya rumah tangga di Inggris sekarang ini mencapai 68 ponsterling (sekitar US $101) per tahun untuk mengimbangi subsidi dan pajak karbon, yang jumalahnya naik sekitar 5 persen di tagihan energi tiap tahunnya.
Sebelum 2020, ada laporan yang mengatakan saat pemerintah membayar untuk membangun lebih banyak lahan energi surya dan angin juga meningkatkan pajak karbon, maka biaya untuk penggunaan yang harus dibayarkan oleh pelanggan akan bertambah. Laporan dari CPS mengatakan dengan kembalinya penggunaan gas dan meninggalkan energi terbarukan akan menyimpan pengeluaran ekstra rumah tangga sebesar 214 ponsterling (senilai US $320). Para menteri saling memperdebatkan bahwa penghematan bisa lebih kecil, 141 ponsterling (sekitar US $211) per kepala keluarga tiap tahunnya.

“Biaya energi terbarukan yang sebentar-bentar sangat dapat dipahami,” jelas laporan dari CPS (22/3), tapi para menteri dengan hati-hati mengemas mereka dengan tujuan “menyembunyikan biaya total dan implikasi operasional” dari energi terbarukan. (GDH/OP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here