SHARE
Nurisman
Nurisman
                                                                                                                                                                        Nurisman

Jakarta, GEO ENERGI – Layaknya peribahasa, “Habis kuman disembelih, hendak juga memberi makan gajah.” Seperti itu pula keadaan terkini yang dirasakan oleh warga Rembang, Jawa Tengah. Dengan bermodalkan semangat, para petani wanita tersebut menyatukan kekuatan guna menolak pembangunan pabrik PT Semen Indonesia.

Dukungan simpatik pun terus datang dari pelbagai lembaga, termasuk salah satunya, WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) yang selalu siap sedia menjadi garda terdepan pembela hak warga di sana.

Dalam salah satu acara kampanye kreatif yang diadakan oleh WALHI di Jalan Tegal Parang Utara No. 14, Jakarta Selatan, para petani wanita yang diwakili oleh Sukinah, Murtini, Tiyem dan Ngatemi menyampaikan beberapa titik permasalahan yang akan menjadi bom waktu di sana. “Aku ini petani, kami hidup di sekitar gunung, desa. Gunung Kendeng bagi petani adalah surga. Karena saya orang kampung, dan di sana adalah lahan untuk kami bertani,” ucap Sukinah. “Air dan tanah itu bagian dari kami. Karena dapat menghidupi semua makhluk hidup,” tambahnya.

Seperti yang ditambahkan oleh Aan selaku anggota WALHI Pati bahwa Pegunungan Kendeng merupakan gerbang dari pertambangan, yang Rembang adalah kuncinya. “Rembang itu merupakan kunci dari tambang lainnya. Untuk itu, kami berharap pencabutan izin pabrik semen demi anak-cucu kita semua.”

Dengan pernyaaan yang begitu keras, apakah ini akan menjadi lampu merah bagi pemerintah untuk menghentikan proyek pembangunan pabrik PT Semen Indonesia? (NA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here