SHARE
ILUSTRASI

batubaraJakarta, GEO ENERGI – Anggota Komisi VII DPR RI, Ramson Siagian mengatakan, program pembangunan listrik 35 ribu megawatt (MW) dalam lima tahun kedepan harus memberikan mayoritas penggunaan energi batubara. Jika ini dilakukan, akan mengurangi mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sebagai energi pembangkit.

Namun sayangnya, dia menilai, pemerintah belum memiliki strategi ketahanan pasokan batubara dalam jangka panjang untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi saat pembangkit tersebut beroperasi.

“Ini yang belum ada strategi komprehensif dari pemerintah bersifat jangka pendek. Bagaimana strategi pemerintah menjaga ketersediaan batubara untuk pembangkit baik PLN atau IPP,” terangnya dalam diskusi “Energi Kita” di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta, Ahad (15/3).

Akibatnya, Ramson bilang, biaya pokok produksi (BPP) listrik di Indonesia mejadi tertinggi di dunia lantaran pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan BBM. Jika dihitung, BPP-nya sekitar Rp 1.300 per Kwh. “Memang ini menjadi problem, karena energi primer costnya tinggi dari BBM,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, saat ini jumlah produksi batubara domestik yang diserap oleh pembangkit listrik milik PLN hanya 20% atau 80 juta ton per tahun. Padahal produksi batubara nasional mencapai 400 juta ton per tahun.

“Sekitar 80 persen batubara kita diekspor ke luar negeri, sementara¬† PLN hanya mampu menyerap untuk PLTU sebanyak 80 juta ton dari produksi nasional yang mencapai 400 juta ton,” kata Fabby.

Fabby menjelaskan, kebutuhan batubara nasional untuk pembangkit listrik diperkirakan mencapai 150 juta ton. Namun sayangnya, PLN tak bisa tidak bisa menyerap produksi batubara tersebut, sehingga produsen memilih mengekspor batu bara tersebut dengan harga lebih murah dan ongkos ekspor yang tinggi.

Dia berharap pembangunan pembangkit 35 ribu MW, sebanyak 10 ribu MW digarap PLN bisa menyerap produksi batubara nasional. “Kalau kayak sekarang produsen batu bara pengen banget jual ke PLN, tapi PLN hanya mampu menyerap 80 juta ton,” pungkasnya. (RBW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here