SHARE

cilamaya (2)Jakarta, GEO ENERGI – Proyek pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat terus menuai protes. Berbagai tudingan pun muncul, mulai dari proyek ini untuk kepentingan asing, hingga tudingan adanya becking dibalik pembangunan pelabuhan tersebut.

Gerakan Masyarakat Tolak Pembangunan Pelabuhan Cilamaya (GEMAS) ikut menuduh adanya keterlibatan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) dalam proyek pembangunan pelabuhan di pantai utara Jabar itu.

Koordinator GEMAS Asep Syaefuddin,  mengatakan, perusahaan-perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla memiliki kepentingan dibalik proyek tersebut. Dia mencurigai perusahaan milik keluarga saudagar asal Makassar itu ikut kebagian “kue” dari proyek pelabuhan tersebut.

“Kita memang curiga ada perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla terlibat dalam pembangunan (pelabuhan) di Cilamaya,” kata Asep kepada Geo Energi, Sabtu (14/3). Namun sayangnya dia tak bisa mengungkapkan nama perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut.

Asep juga mencurigai lawatan JK ke Jepang sebagai bagian dari pembicaraan soal kelangsungan pembangunan pelabuhan Cilamaya dengan perusahaan konsultan Jepang atau JICA (Japan International Cooperation Agency). “Kita curiga pertemuan dengan pihak JICA menjadi salah satu agenda JK dalam kunjungannya ke Jepang,” pungkasnya.

Tudingan GEMAS itu didasari munculnya sikap ngotot Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan. Bahkan dia mengatakan pembangunan itu sesuai arahan Wakil Presiden Jusuf Kalla, proyek pelabuhan tersebut tetap diteruskan.

“Arahannya dari Pak Wapres, Cilamaya itu harus diteruskan. Kalau lokasinya ada yang mengganggu ya teruskan saja. Ini kan pembangunan untuk 25 tahun ke depan. Biarkan saja bersaing biar ada pembangunan,” jelas Jonan kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Soal investor untuk pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Jonan mengatakan pemerintah nanti akan melakukan lelang untuk investor, dan setelah itu akan dibuat studi kelayakan (feasibility study). “Investor belum ada nanti kita akan lelang,” ucap Jonan.

Pembangunan proyek pelabuhan Cilamaya ini menuai protes dari Pertamina. Perusahaan migas plat merah ini menyatakan dampak yang ditimbulkan dari proyek tersebut sangat besar. Jika dihitung, perusahaan migas plat merah ini akan kehilangan pendapatan dari produksi harian migas yang terhenti. Jika dihitung, Pertamina akan kehilangan pendapatan mencapai 12,3 miliar dollar AS atau setara Rp 147,6 triliun.

Dampak lainnya, kerugian dari biaya yang dikeluarkan langsung Pertamina yang mencapai 206 juta dollar AS.

Selain produksi minyak mentah nasional terancam anjlok signifikan, karena proyek tersebut mengancam menghentikan produksi Blok PHE ONWJ di lepas pantai Jawa Barat sebesar 45 ribu barel per hari. Proyek Cilamaya juga berdampak besar bagi infrastruktur di PHE ONWJ dan sekitarnya.

Seperti diketahui, Pelabuhan Cilamaya dikhususkan dapat disandari kapal-kapal raksasa atau Ultra-Large Container Ships (ULCS) berkapasitas 13.000 TEUS. Pembangunan proyek ini diperkirakan akan menghabiskan investasi sebesar 50 juta dollar AS. (RBW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here