SHARE
skalanews
skalanews
                                                                                                                                                                             skalanews

Jakarta, GEO ENERGI– Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat baik, rata-rata 4,80 kWh/m2/hari. Seiring dengan berkembangnya teknologi konversi energi surya menjadi energi listrik serta menurunnya biaya peralatan yang diperlukan, potensi energi surya nasional menjadi hal yang layak untuk didorong pemanfaatannya di Indonesia.

Melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 17 Tahun 2013 tentang Pembelian Tenaga Listrik oleh PT PLN dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik, Pemerintah telah memberikan kesempatan bagi pengusahaan energi surya sebagai pembangkit listrik melalui mekanisme kuota kapasitas dan penetapan harga patokan tertinggi sebesar US$25 sen perkilowatt hours (kWh).

Memperhatikan kondisi tersebut diatas maka Pemerintah perlu mendorong pemanfaatan energi terbarukan sebagai sumber energi di bangunan-bangunan perkantoran yang hampir seluruhnya menggunakan listrik dari jaringan PLN sehingga dapat menekan penggunaan bahan bakar minyak dan penurunan emisi CO2.

Pemanfaatan energi terbarukan yang cocok untuk perkantoran adalah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan menggunakan modul surya fotovoltaik yang dipasang di atap bangunan (rooftop). PLTS rooftop merupakan solusi yang handal bagi penyediaan energi di gedung-gedung perkantoran karena mayoritas gedung perkantoran menggunakan listrik pada siang hari atau jam kerja pasalnyabiaya pengadaan listrik yang lebih murah dari diesel ataupun bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, perawatan dan pengoperasiannya juga mudah namun dampaknya signifikan untuk mengurangi polusi dan efek rumah kaca.

Disamping itu, bentuk PLTS rooftop tersebut memiliki keunggulan tersendiri apabila dibandingkan dengan PLTS skala besar, diantaranya lebih mudah dan murah untuk diintegrasikan dengan sistem kelistrikan yang sudah ada, dapat memanfaatkan lahan yang ada (mengurangi biaya investasi lahan), serta dapat turut mengurangi beban jaringan sistem yang ada.

Mengingat saat ini PLN telah mengakomodasi pemanfaatan PLTS oleh pelanggan secara terintegrasi jaringan melalui sistem net-metering dimana produksi listrik oleh pelanggan akan mengimbangi energi listrik dari sistem PLN, maka sistem PLTS yang akan dibangun adalah PLTS rooftop on grid dilengkapi dengan baterei sebagai kompensasi atas fluktuasi radiasi surya yang mungkin terjadi.

Untuk menentukan berapa kapasitas PLTS yang diperlukan maka perlu diperhatikan berapa produksi energi yang diinginkan. Sebagai contoh, misal jika PLTS rooftop ini diimplementasikan di gedung Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) dengan profil beban konsumsi energi harian adalah sebesar 3,2 megawatt hour (MWh), apabila digunakan asumsi 7 persen dari energi listrik yang diperlukan dan load factor 0,6 maka diperoleh kapasitas sistem sebesar 133 kWp. Dengan luasan per kWp 7 m2, maka luasan yang diperlukan untuk sistem 132,96 kWp adalah sekitar 931 m2. Dengan harga PLTS Rp 28 juta per kWp (rata-rata rooftop residential), maka diperlukan biaya sekitar Rp 3,76 miliar.

Dengan asumsi pengurangan emisi CO2 sebesar 0,891 kg/kWh maka dalam satu tahun akan diperoleh penurunan emisi 172 ton CO2.(HER/EBTKE/FER)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here