SHARE

jarakpagarJakarta, GEO ENERGI – Gejolak prediksi terbatasnya bahan bakar fosil hingga 75% (tersisa 25%) pada tahun 2050, nampaknya menjadi issue strategis yang harus dicarikan jalan keluarnya. Gelegak yang timbul pada tahun 2005-an, tentunya telah disikapi oleh Pemerintah Indonesia secara serius, bahkan diinstruksikannya pemanfaatan bahan bakar dari sektor hijau. Salah satu di antaranya dengan menggunakan bio-disel. Hal tersebut menjadi satu alternatif yang harus dibangun. Selain mudah dibudidayakan di Indonesia, juga memiliki lahan dan bahan (jenis budidaya) yang cukup banyak.

Beberapa hal lagi yang patut dipikirkan adalah tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang spesifik. Alhasil, minyak jarak pagar kini menjadi sorotan dunia semenjak melonjaknya harga minyak mineral, dan isu lingkungan diangkat dalam pemanfaatan bio-disel karena sumber-sumbernya banyak yang kurang mempertimbangkan keseimbangan ekosistem dan pemanfaatan hasil yang cenderung untuk pemenuhan kebutuhan manusia seperti, kelapa sawit.

Urgensi pemanfaatan bio-disel di Indonesia, selain disambut oleh pemerintah, juga masyarakat luas, karena teknik budidayanya sangat-sangat dipahami oleh masyarakat.

“Manfaat kegiatan usaha budidaya tanaman jarak pagar, bukan saja partisipasi dalam pelaksanaan program pemerintah. Akan tetapi, kegiatan ini mampu menciptakan tenaga kerja dan pendapatan masyarkat, serta sumber PAD bagi pemerintah daerah,” jelas Dr. Ir. Tarsoen Waryono, Msc selaku Ketua Forum Hutan Kota Nasional saat kami temui di kediamannya, Depok, Senin (2/3). (NA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here