SHARE

copper_smeltingJakarta, GEO ENERGI — Kewajiban membangun smelter bagi perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia terus menjadi sorotan masyarakat. Hari ini diskusi bertajuk “Renegosiasi Kontrak Pertambangan dan Pembangunan Smelter di Dalam Negri” digelar di Jakarta, selasa (3/3).

Staf ahli kementerian ESDM, Said Didu mengatakan bahwa proses pemurnian memang sudah diatur dalam UU pengolahan dan pemurnian, namun tidak di rinci secara hukum berapa persen tingkat pemurniannya. Karena tidak di rinci, maka tafsir yang di gunakan pemerintah yaitu ketika konsentrat tambang tidak dimurnikan sampai 100%, maka perusahaan harus memberikan denda berupa biaya keluar sebesar 7,5%. Said pun menghimbau jika perusahaan ingin bebas dari denda ini maka smelter harus cepat di bangun.

“Bagi perusahaan yang sudah ada niat membangun smelter, saya sangat hargai. Kalau pendapat saya pribadi bagi mereka yang berhenti membangun smelter di tengah jalan karena modal, saya akan bolehkan mereka ekspor, tapi mereka tetap harus bayar biaya ekspor kepada negara dan berikan jaminan smelter akan cepat diselesaikan. Anggap saja kalau sangsi itu langkah untuk mempercepat pembangunan smelter,” ujar said

Lanjutnya kementerian ESDM selama ini memang di gerakan oleh para pengusaha-pengusaha besar sehingga kerja sama diantara keduanya harus di lakukan dalam segala urusan termasuk smelter. Misalnya saja dalam kasus Freeport. Freeport adalah contoh perusahaan tambang yang memproduksi konsentrat mencapai 90%. Dalam 5 tahun ke depan Freeport akan supply sekitar 3,9 juta ton konsentrat. Namun kapasitas smelter yang di bangun seperti di Gresik misalnya, hanya berjumlah 1 juta ton.

Oleh karena itu masalah pembangunan smelter ini perlu terus di cari jalan keluar. Kedepan pembangunan smelter harus menghindari oversupply konsentrat yang bisa menciptakan kerugian dan penurunan kualitas.
“Smelter Freeport dan Newmount harusnya udah selesai di bangun pas 2014. Tapi terus terjadi tarik menarik antara pemerintah dan investor. Selama ini Kementrian ESDM terus mengadakan diskursus dengan publik. Keterlibatan publik, itu harapaan kami,” papar Said. (FAT)

foto: satyayudha.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here