SHARE
Istimerwa

Gas 3kgJakarta, GEO ENERGI – Melambungnya harga-harga kebutuhan pokok semakin membuat masyarakat, khususnya masyarakat lalangan bawah tak berdaya. Kesulitan ini masih ditambah lagi dengan Kenaikan harga kebutuhan energi dibidang gas dan bahan bakar minyak (BBM).

Khusus untuk gas elpiji ukuran 3 kilogram dipasaran harganya naik dari Rp18 ribu menjadi Rp20 ribu. Bahkan dibeberapa pengecer, harga gas jenis melon ini dijual kepada konsumen seharga Rp22 ribu.

Di wilayah Pademangan, Jakarta Utara harga jual gas ukuran 3 kg dijual seharga Rp 20 ribu. Padahal menurut bebera pedagang di wilayah itu biasanya harga jenis melon ini dijual seharga Rp17 ribu. “Naik mas dari biasanya Rp17 ribu sekarang dijual Rp20 ribu,” kata Wahyu salah seorang pedagang di Padar Rajawali, Pademangan, Jakut, Senin (2/3).
Menurutnya, kenaikan harga ini sudah dirasakan sejak beberapa pekan lalu. Wahyu memperkirakan, kenaikan harga gas ukuran terkecil ini disebabkan melambungnya harga gas ukuran 12 kg menjadi Rp140 ribu per tabung.

“Sebelum naik harganya masih berkisar Rp100 ribu. Tapi dalam dua minggu terakhir menjadi Rp140 ribu,” sambung Wahyu.

Sebelumnya PT Pertamina (Persero) menaikan harga elpiji 12 kg sebesar Rp5 ribu per tabung atau menjadi Rp134 ribu. Per tabunf ditingkat agen. Kenaikan harga gas itu dipicu oleh harga gas acuan kontrak Aramco naik. Penyesuaian harga gas ini mulai diberlakukan pada 1 Maret 2015.

Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan, harga gas acuan kontrak (CP) Aramco pada bulan Februari 2015 sekitar 470 dollar AS per metrik ton. Adapun harga gas CP Aramco naik sekitar 500 dollar AS per metrik ton mulai Maret ini.

“Kenaikan harga 12 kg itu dilakukan untuk mencegah agar Pertamina tak merugi. Sepanjang 2014, kerugian Pertamina mencapai sekitar 500 juta dollar AS karena harga elpiji 12 kg yang dijual Pertamina jauh dibawah harga keekonomian,” kata Bambang.

Sementara, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha meminta kepada pemerintah untuk menjaga laju stabilitas inflasi agar tidak naik di bulan April mendatang. Hal ini mengingat terjadinya kenaikan harga beberapa kebutuhan bahan pokok, gas, dan bensin.

“Pengalaman kita kalau BBM naik semua harga pokok ikut naik, tapi kalau harga BBM turun harga kebutuhan pokok tak ikut turun. Kita tak ingin kenaikan harga BBM ini berdampak pada laju inflasi,” ujar Satya kepada wartawan. (RBW).

foto:timlo.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here