SHARE

Jakarta, GEO ENERGI– Mantan Kepala BP Migas (saat ini SKK Migas) Raden Priyono, sangat menyayangkan pembubaran lembaga tersebut pada  lalu, ketika dunia Internasional menganggap Indonesia sangat nasionalis.

Hal tersebut diungkapkannya dalam sebuah acara bedah buku “Migas The Untold Story” yang di gelar di Unika Atma Jaya, Rabu (25/2). “Ironis sekali, pada saat itu juga BP migas ditumbangkan, disaat dunia internasional mengatakan indonesia ini sangat nasionalis,” ujarnya.

Justru menurut Priyono, bahwa di era Pertamina-lah banyak perusahaan asing yang masuk ke Tanah Air, bukan dalam era BP Migas. Termasuk dalam perpanjangan kontraknya.

“Dikatakan bahwa, pada era migas inilah asing masuk. Nah ini merupakan suatu pergelinciran fakta. Semua perusahaan migas asing itu masuknya jaman Pertamina, dan waktu perpanjangan kontraknya juga itu jaman Pertamina. Para praktisi juga malah mempertanyakan mengapa pada saat perpanjangan blok-blok minyak asing ini Pertamina tidak mengambil sebagian kok diteruskan lagi. Nah kita dapat warisan seperti itu dari pertamina. Menyedihkan kan ini?” keluhnya.

Intrik Politik dibalik Pembubaran BP Migas

Pembubaran BP Migas pada 2012 lalu masih menyisakan sebuah misteri. Disinyalir bahwa ada kekuatan politik yang bermain di balik pembubaran lembaga tersebut. Priyono mencoba menalaah hal tersebut ketika BP Migas mendapatkan penurunan produksi yang luar biasa besarnya, yaitu dari 1,6 juta barel per hari, turun terus sebanyak 22 persen.

Saat itu menurut Pritono, pihaknya terus berusaha menahan penurunan tersebut. Sehingga pada tahun 2008, penurunan produksi tersebut bisa ditahan mulai dari 4 persen, 3 persen, hingga 2 persen penurunannya. “Sebenarnya pada tahun 2012 itu sudah bisa menembus 1 juta barel per hari tapi sayangnya tahun itu terjadi ‘petik’ sehingga turun menjadi 65 ribu barel satu hari padahal sedang dalam proses naik waktu itu. Ada yang kabel dibakar, ada yang fasilitas operasional mendadak rusak, dan itu seperti satu kebetulan. Karena tidak bisa menembus 1 juta, disitulah mulai turun lagi, itu latar belakangnya politik juga. Nah inilah yang seakan-akan sepenuhnya salah BP Migas. Tapi itulah politik,” ujarnya.

Menurutnya, dalam dunia industri Minyak Migas, selain berkaitan dengan masalah teknis, juga tidak terlepas dari permasalahan politik.

“Kalau bicara migas itu tidak lepas dari persoalan politik, masalah ekonomi dan teknis geologi itu sendiri. Tapi tidak apa-apa, ini pembelajaran. Tapi saya senang, saya sudah abdikan diri saya pada negara tapi rupanya tidak diapresiasi, namun dunia internasional yang mengapresiasi,” tandasnya.

Sempat Persulit Perusahaan Asing

Priyono mengklaim bahwa lembaga yang pernah dipimpinnya itu berhasil menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara paling nasionalis dalam pengelolaan sektor migas.  “Selama saya menjadi kepala BP Migas, saya membuat banyak paraturan yang menyulitkan perusahaan-perusahaan migas dari luar negeri untuk beroperasi di indonesia,” ujar Priyono.

Priyono menjelaskan, salah satu peraturan buatan BP Migas yang memihak kepentingan nasional adalah memaksa perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia untuk menggunakan perbankan nasional.

“Saya bilang kepada perusahaan luar negeri, kalau Anda tidak menggunakan bank nasional (BNI, BRI, dan Mandiri), saya tidak akan membayar cost recovery,” imbuhnya.

Meski demikian, Priyono mengakui, penurunan produksi minyak terjadi saat pengelolaan migas Indonesia di bawah BP Migas. Hal inilah yang terindikasi menjadi salah satu faktor penyebab dibubarkannya lembaga tersebut. (DSU)

foto:merdeka.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here