SHARE

Jakarta, GEO ENERGI – Peluncuran buku yang merupakan kerja sama antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan International Energy Agency (IEA) siang tadi diadakan di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (17/2). Acara itu dihadiri oleh Menteri ESDM, Sudirman Said dan juga Executive Director IEA, Maria van der Hoeven. Buku yang berjudul “The 2015 In-Depth Review of Indonesia’s Energy Policies” ini merupakan buku kedua (The 2nd IDR) yang diluncurkan IEA setelah sebelumnya buku pertama mereka diluncurkan pada tahun 2008 lalu.

Buku The 2nd IDR ini berfokus pada pertumbuhan supply and demand atas energi dan sumber daya alam dalam kaitannya dengan target Indonesia pada perubahan iklim. Dalam buku ini, Indonesia dan IEA juga melaksanakan studi bersama terkait kebijakan untuk mereformasi subsidi bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi media bertukarpandangan dengan negara-negara lain.

Sudirman Said mengatakan bahwa dalam buku ini, IEA mengapresiasi kinerja pemerintah Indonesia yang dianggap telah berhasil mengalihkan subsidi dari sektor konsumtif ke sektor produktif. Dimana banyak sekali negara-negara lainnya yang merasa kesulitan melakukan hal itu. IEA menemukan bahwa subsidi energi di Indonesia menjadi tantangan utama untuk mengembangkan sektor energi.

“Dapat menggeser subsidi dari sektor konsumtif ke sektor produktif itu diapresiasi IEA sebagai suatu achievement besar. Banyak sekali negara-negara lain yang kesulitan melakukan hal itu, tapi Indonesia bisa melakukan dan menyelesaikannya dengan baik,” papar Sudirman Said dalam Jumpa Pers dengan Wartawan di Jakarta, Selasa (17/2).

Langkah pemerintah untuk menghapuskan subsidi bahan bakar fosil merupakan kemajuan yang cukup berarti yang dapat menjadi tolak ukur perubahan agar mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menggantinya dengan bahan bakar lainnya. Hal ini sejalan dengan Kebijakan Energi Nasional dimana target penggunaan energi terbarukan 23% pada tahun 2025.

IEA adalah organisasi antar pemerintah yang didirikan pada tahun 1974 oleh negara-negara anggota Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). Dengan jumlah anggota sebanyak 29 negara, IEA mempunyai 42 Implementing Agreements (IAs) yang menjadi kerangka kerja sama dengan negara-negara di luar anggota IEA.

Kementerian ESDM telah memiliki hubungan baik dengan IEA sejak tahun 2006 lalu. Semenjak itu, Kementerian ESDM telah mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh IEA, kerja sama KESDM dengan IEA dilakukan dalam tiga bentuk utama yaitu lokakarya (workshop), penerbitan publikasi dan pertemuan high level. (YAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here