SHARE
jumpunpambelom.blogspot.com

Jakarta, GEO ENERGI– Dalam sejarah kebakaran hutan di Indonesia, peristiwa di tahun 1997 – 1998 termasuk yang terbesar. Kebakaran yang melanda berbagai wilayah, termasuk pulau Kalimantan tersebut telah menghancurkan berhektar-hektar hutan gambut. Bukan itu saja, tidak sedikit juga hutan yang rusak akibat dari eksploitasi tambang yang kurang mendapatkan perhatian.

Dan tidak jarang, kerusakan tersebut tidak hanya menghancurkan secara fisik hutannya saja, tetapi juga perekonomian masyarakat sekitar. Kejadian memilukan inilah yang kemudian mendorong Ir. Januminro, seorang pegawai negeri sipil untuk menumbuhkan kembali hutan di lahan gambut. Berawal dari beberapa hektar saja, hutan di Jl. Lintas Kalimantan antara Palangkaraya – Banjarmasin Km. 30.5 Desa Tumbang Nusa, Kec. Jabiren Raya, Kab. Pulau Pisau, Prop. Kalimantan Tengah mulai dibentuk. Saat ini, hutan gambut yang dibuat oleh lulusan Manajemen Hutan, Universitas Lambung Mangkurat itu sudah seluas 10 hektar.

“Penambahan luas lahan itu adalah hasil dari membeli lahan masyarakat sekitar ataupun dari hibah,” ujar Januminro, lewat keterangan tertulis yang dikirimkan oleh Epistema Institute, Senin (16/2).

Dan Agar berbeda dengan hutan gambut lainnya, penulis buku Rotan Indonesia itu memberinya nama ‘Jumpun Pambelom’. Selayaknya seorang bayi, nama hutan gambut itu juga mengandung doa dan harapan. Jumpun diambil dari bahasa Dayak Ma’anyan yang berarti hutan dan Pambelom berasal dari bahasa Dayak Ngaju yang berarti kehidupan. Jika disatukan maka Jumpun Pambelom berarti hutan yang memberikan kehidupan atau sebagai sumber kehidupan. Sebuah harapan besar yang ingin diwujudkan oleh Januminro. (DSU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here